a

Stabilitas makroekonomi dan kesehatan sektor perbankan mempunyai keterkaitan erat. Keterkaitan tersebut mengarah pada dua kemungkinan, yaitu (i) ketidakstabilan dalam ekonomi makro dapat menyebabkan ketidakstabilan di sektor perbankan dan (ii) ketidakstabilan di sektor perbankan dapat menyebabkan ketidakstabilan dalam ekonomi makro. Terkait dengan hal ini, International Monetary of Fund (IMF) pada tahun 1998 melakukan survei terhadap 53 negara, baik negara industri maupun negara berkembang, dan berhasil mengidentifikasi 54 krisis perbankan sepanjang tahun 1975 hingga 1997. Sebagian besar krisis perbankan tersebut disertai dengan kemerosotan ekonomi makro (resesi), dengan persentase sebesar 82 persen dari sampel observasi. Kondisi tersebut cenderung lebih sering dialami oleh negara berkembang. Lebih lanjut, bukti empiris tersebut juga menunjukkan bahwa ketidakstabilan pada umumnya dimulai dari ketidakstabilan ekonomi makro dan menjalar ke sektor perbankan. Ketidakstabilan di sektor perbankan pada gilirannya akan kembali memperparah ketidakstabilan yang telah terjadi pada ekonomi makro.

Identifikasi mengenai pola ketidakstabilan kondisi ekonomi makro merupakan upaya penting yang harus dilakukan dalam rangka mengurangi kemungkinan risiko ketidakstabilan sektor perbankan. Identifikasi tersebut merujuk kepada identifikasi guncangan makroekonomi yang di antaranya dapat disebabkan oleh inflasi yang tinggi, pemburukan pada term of trade, pembalikan arus modal dan lain-lain. Identifikasi tersebut pada umumnya lebih bersifat forward looking. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan potensi guncangan yang mungkin terjadi pada suatu kondisi ekonomi tertentu.

Identifikasi guncangan makroekonomi dapat dilakukan dengan menggunakan kerangka analisis siklus bisnis. Analisis ini memberikan pemahaman bahwa guncangan makroekonomi bersifat random dan mempunyai kecenderungan untuk terjadi secara berulang dalam fase yang berbeda, meskipun kecederungan tersebut tidak mempunyai pola periodik. Selain itu, analisis siklus bisnis juga dapat mendeteksi turning point dari perkembangan ekonomi serta arah dari kegiatan ekonomi. Pemahaman yang akurat mengenai arah kegiatan ekonomi tersebut sangat penting bagi referensi perumusan kebijakan ekonomi.

Analisis siklus bisnis mengembangkan indikator yang dapat merefleksikan pergerakan siklus, yang terdiri dari indikator lagging, coincident, dan leading. Masing-masing indikator tersebut memiliki peran yang berbeda dalam analisis turning point siklus bisnis. Dalam hal ini, indikator leading digunakan untuk memprediksi turning point pada perekonomian. Indikator coincident digunakan untuk menandai keberadaan turning point, sedangkan indikator lagging digunakan untuk mengkonfirmasi keberadaaan turning point.

The business cycle analysis has two main benefits in predicting the crisis on the economy. First, early detection and timely recognition of business cycle turning points is important as it would allow policymakers to take preemptive policy measures. Second, it has long been recognized that business cycle analysis produces the indicators which are appropriate for turning point predictions that involve detecting regime shifts.

DEFINIT ditunjuk oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk membangun Model Siklus Bisnis LPS berdasarkan praktik terbaik, metodologi empiris yang kuat, dan disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi LPS. Model ini juga akan merumuskan indikator yang dapat digunakan untuk memantau dan memprediksi kondisi ekonomi makro. Model ini diharapkan dapat menjadi alat bagi LPS guna merumuskan kebijakan dalam mendukung pelaksanaan fungsi LPS, sebagai salah satu lembaga yang mempunyai peran aktif dalam menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia.