Terbaru | Peta Situs | Hubungi Kami

 
Pekerjaan Penelitian DEFINIT
 
C Survei "Perempuan Pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Indonesia"
  Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan bagian penting bagi pertumbuhan sosial ekonomi dari sebuah negara. Di Indonesia, sektor UMKM juga berkontribusi secara signifikan terhadap ketenagakerjaan dan pendapatan. Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Republik Indonesia, UMKM di Indonesia berkontribusi hampir 58 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) riil pada tahun 2012. Rekening UMKM berjumlah lebih dari 97 persen dari total ketenagakerjaan pada tahun 2012. Walaupun memiliki kontribusi yang tinggi pada ketenagakerjaan, banyak UMKM yang menghadapi kesulitan untuk bertumbuh dan mengembangkan usaha mereka menjadi usaha yang besar. selengkapnya »
   
C Survei Perlindungan Konsumen:
"Dampak Pemberlakukan Peraturan OJK tentang Perlindungan Konsumen Terhadap Tingkat Literasi dan Inklusi Keuangan"
  Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi peningkatan yang cukup signifikan dalam pengembangan produk keuangan yang kompleks (complex financial products). Instrumen keuangan menjadi lebih canggih (sophisticated). Perkembangan tersebut perlu diiringi dengan peningkatan perhatian tentang perlindungan konsumen sektor jasa keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga independen yang bertanggung jawab dalam pengawasan aktivitas jasa sektor keuangan di Indonesia merupakan pihak yang diamanatkan untuk mengatur regulasi tentang perlindungan konsumen sektor jasa keuangan di Indonesia. selengkapnya »
   
C Keterkaitan Antara Variabel Makro Ekonomi Dengan Variabel Inklusi Keuangan
  Inklusi keuangan merupakan sebuah proses yang menjamin seluruh lapisan masyarakat dalam hal ketersediaan, penggunaan, dan kemudahan akses terhadap layanan keuangan formal (Sarma, 2008). Berdasarkan data Global Findex (2015), Indonesia termasuk negara yang memiliki tingkat inklusi keuangan yang rendah, yaitu 20-39 persen. Apabila dilihat dari segi kepemilikan tabungan, data Survei Neraca Rumah Tangga (SNRT) tahun 2011 oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa persentase masyarakat Indonesia yang memiliki tabungan di lembaga keuangan bank hanya sebesar 43,57 persen. Sementara itu, akses masyarakat Indonesia untuk mendapatkan pinjaman juga masih rendah, yaitu hanya 19,58 persen masyarakat Indonesia yang memiliki utang ke lembaga keuangan bank (Bank Indonesia, 2011). selengkapnya »
   
C Kebijakan Penetapan Tarif Transaksi Bagi Pengguna Jasa Sistem Pembayaran
  Efektivitas dan kelancaran perekonomian suatu negara sangat dipengaruhi oleh sistem pembayaran yang dimiliki negara tersebut. Sistem pembayaran adalah suatu sistem yang mencakup seperangkat aturan, lembaga, dan mekanisme untuk memindahkan dana dalam rangka memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi. Komponen sistem pembayaran terdiri dari alat pembayaran, mekanisme kliring sampai dengan settlement; dan lembaga yang terlibat dalam penyelenggaraan sistem pembayaran. Lembaga dalam sistem pembayaran ini bukan hanya lembaga keuangan bank, namun juga lembaga keuangan selain bank, lembaga bukan bank penyelenggara transfer dana, perusahaan switching dan bank sentral. selengkapnya »
   
C Survei Baseline dan Komprehensif untuk Individu dan Rumah Tangga
  Akses terhadap sistem keuangan formal dapat menjadi katalis pemberdayaan ekonomi dan meningkatkan kepemilikan aset rumah tangga. Namun demikian, Global Financial Inclusion Index menunjukkan bahwa hanya 50 persen penduduk dewasa yang memiliki rekening individu atau rekening bersama dan lebih dari 1,5 miliar penduduk dewasa tidak memiliki rekening formal dan akses ke produk-produk keuangan dasar. Hasil Survei Neraca Rumah Tangga (SNRT) 2011 yang dilakukan oleh Bank Indonesia mengindikasikan kesimpulan yang serupa untuk kasus Indonesia. Hanya 43,57 persen rumah tangga yang disurvei memiliki rekening tabungan di bank. Secara khusus, jumlah rumah tangga yang memiliki pinjaman di bank sangat rendah, yaitu hanya 19,58 persen. selengkapnya »
   
C Literasi Keuangan dan Utilitas Keuangan
  Upaya peningkatan literasi keuangan pada awalnya dilakukan di negara maju. Namun saat ini, negara-negara berkembang juga telah mulai memfokuskan kebijakan pada peningkatan literasi keuangan dan penyediaan akses keuangan yang lebih luas bagi masyarakat. Salah satu penyebab hal tersebut adalah semakin meningkatnya kesadaran bahwa pemahaman keuangan yang rendah akan memiliki implikasi tidak hanya terhadap individu, namun juga terhadap perekonomian secara keseluruhan. Peningkatan literasi keuangan akan mendorong terwujudnya sistem keuangan yang lebih stabil dan mendorong perilaku yang lebih berhati-hati (prudent) sehingga mengurangi kerentanan keuangan. selengkapnya »
   
C Pembiayaan dan Sarana Penerapan Lainnya dalam Konteks Pasca - Gambaran Kondisi Indonesia (Financing and Other Means of Implementation In The Post-2015 Context - Indonesia's Country Illustration)
  The European Report on Development (ERD) merupakan sebuah laporan independen dan berpengaruh yang telah dipublikasikan sejak tahun 2009. Tujuan dari ERD ini adalah untuk memunculkan wacana dan penelitian untuk topik-topik utama terkait pembangunan dan meningkatkan perspektif Eropa dalam pembangunan internasional. European Report on Development ke-5 (ERD 2015) bertema "Menggabungkan pembiayaan dan kebijakan yang sesuai untuk memungkinan adanya transformasi aganda pembangunan Pasca-2015." Laporan ini betujuan untuk mengidentifikasi dan membahas pembiayaan dan sarana penerapan lainnya dalam konteks penentuan tujuan Pasca -2015. Laporan ini memberikan gambaran mengenai kebutuhan dan penawaran pembiayaan pembangunan dan dampak dari sarana penerapan lainnya terhadap ketersediaan dan efektivitas pembiayaan. selengkapnya »
   
C Survei Baseline: Porfofolio Investasi UMKM Rumah Tangga Upaya Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Penggunaan Produk Lembaga Jasa Keuangan
  Salah satu ciri perekonomian Indonesia adalah dominannya sektor informal yang mayoritas merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sektor UMKM Indonesia menyumbang 57,9 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menyerap 97,2 persen angkatan kerja. Meskipun demikian, sebagian besar UMKM tersebut tidak memiliki akses keuangan yang memadai. Produk keuangan dan investasi yang dimiliki oleh UMKM umumnya merupakan produk keuangan dan produk investasi tradisional. selengkapnya »
   
C Survei Anggota Koperasi Simpan Pinjam di Indonesia
  Menurut BPS (2013), terdapat 55,8 juta usaha kecil, dan menengah (UKM) di Indonesia. Namun, sampai dengan saat ini UKM masih sulit untuk berkembang dimana Kurangnya pendanaan menjadi alasan utama sulitnya perkembangan UKM ini. Sebagian besar pendanaan UKM berasal dari insititusi keuangan. Untuk dapat tumbuh cepat, UKM perlu untuk dapat memperoleh akses yang lembaga keuangan yang lebih besar. selengkapnya »
   
C Indeks Keuangan Inklusif: Perbaikan, Penyusunan, dan Simulasi
  Inklusi keuangan merupakan salah satu faktor penting untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Inklusi keuangan yang rendah menunjukkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam jasa keuangan formal. Peningkatan tingkat inklusi keuangan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi keuangan melalui peningkatan partisipasi masyarakat terhadap jasa keuangan formal. Hal ini pada akhirnya dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melakukan aktivitas ekonomi sehingga dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. selengkapnya »
   
d Membangun Index Literasi Keuangan Indonesia
 

Dalam beberapa tahun terakhir, isu mengenai literasi (pengetahuan) keuangan telah menjadi salah satu fokus kebijakan pemerintah dan lembaga keuangan di Indonesia. Terdapat kekhawatiran bahwa konsumen cenderung kurang memahami konsep keuangan dan tidak memiliki pengetahuan untuk membuat keputusan keuangan. Dengan adanya peningkatan literasi keuangan diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada kestabilan sistem keuangan dan mengurangi kerentanan dalam sistem keuangan. selengkapnya »

d Model Sikus Bisnis: Coincident Economic Indicator dan Leading Economic Indicator
 

Stabilitas makroekonomi dan kesehatan sektor perbankan mempunyai keterkaitan erat. Keterkaitan tersebut mengarah pada dua kemungkinan, yaitu (i) ketidakstabilan dalam ekonomi makro dapat menyebabkan ketidakstabilan di sektor perbankan dan (ii) ketidakstabilan di sektor perbankan dapat menyebabkan ketidakstabilan dalam ekonomi makro. Terkait dengan hal ini, International Monetary of Fund (IMF) pada tahun 1998 melakukan survei terhadap 53 negara, baik negara industri maupun negara berkembang, dan berhasil mengidentifikasi 54 krisis perbankan sepanjang tahun 1975 hingga 1997. Sebagian besar krisis perbankan tersebut disertai dengan kemerosotan ekonomi makro (resesi), dengan persentase sebesar 82 persen dari sampel observasi. Kondisi tersebut cenderung lebih sering dialami oleh negara berkembang. Lebih lanjut, bukti empiris tersebut juga menunjukkan bahwa ketidakstabilan pada umumnya dimulai dari ketidakstabilan ekonomi makro dan menjalar ke sektor perbankan. Ketidakstabilan di sektor perbankan pada gilirannya akan kembali memperparah ketidakstabilan yang telah terjadi pada ekonomi makro selengkapnya »

d Pembuatan Model Banking Pressure Index
 

Kesehatan sektor keuangan merupakan sebuah syarat penting bagi stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Apabila sektor keuangan dapat berfungsi dengan baik, maka sektor keuangan, dimana salah satunya adalah sektor perbankan, akan dapat menyalurkan dana dari pihak yang surplus kepada pihak yang membutuhkan dana untuk digunakan dalam kegiatan produktif. Terganggunya sistem perbankan memiliki dampak yang sangat besar dan dapat menyebabkan aktivitas perekonomian menjadi terhambat. selengkapnya »

   
d Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Likuiditas Rumah Tangga di Indonesia: Studi Empiris dengan Data Survai Neraca Rumah Tangga
  Tingkat likuiditas suatu perekonomian berpengaruh terhadap stabilitas makro dan keuangan perekonomian. Likuiditas yang berlebihan dapat memicu peningkatan inflasi, namun tingkat likuiditas yang sangat rendah juga dapat menyebabkan shocks dalam perekonomian. Likuiditas perekonomian secara keseluruhan dipengaruhi oleh berbagai aktivitas dari berbagai sektor perekonomian, termasuk pemerintah, korporasi dan rumah tangga. selengkapnya »
   
d Model Markov Switching
  DEFINIT memiliki ekspertis dan keungulan karena metoda riset dan pengujian yang canggih dan selalu berusaha untuk memberikan konsultansi dan rekomendasi kebijakan yang berdasarkan hasil riset yang solid dan akurat kepada klien. Oleh karena itu, DEFINIT secara regular meningkatkan kapasitas riset dan analisis Staf Peneliti DEFINIT melalui berbagai program peningkatan kapasitas (capacity building) dan latihan riset internal dengan menggunakan metoda-metoda riset dan pemodelan terbaru. selengkapnya »
   
d Penelitian tentang Pengelolaan Utang
  Mayoritas utang Indonesia adalah utang jangka menengah. Perbandingan data internasional menunjukkan, bahwa mayoritas utang di negara sedang berkembang adalah utang jangka panjang. Selain itu, mayoritas utang berasal dari pinjaman resmi (official) dan bank. Dornbusch (1993) mencatat bahwa dalam hal pinjaman luar negeri, kebanyakan kreditur tidak dalam posisi meng-amortisasi utang, karena itu pembedaan utang dalam jangka pendek-menengah-panjang menjadi tidak relevan. selengkapnya »
   
 

Terbaru | Peta Situs | Hubungi Kami | Beranda | Tentang DEFINIT | Layanan Kami | Partner | Data & Dashboard
Video | Publikasi | Karir | Pelatihan | Penelitian | Konsultansi


Copyright DEFINIT, All Rights Reserved